~Selamat Datang Di Blog Saya~

Kamis, 26 November 2015

Materi Marhaenisme (PPAB GmnI)



Pendahuluan
Banyak orang belajar/mempelajari Marhaenisme, yakni ajaran Bung Karno. Namun tidak menemukan apa sebenarnya inti dan kehendak dari ajaran tersebut. Mereka tidak atau belum menemukan "benang merahnya". Dengan demikian maka sepertinya mereka sekedar mempelajari secara lahir tentang perjuangan dan keberhasilan Bung Karno di masa yang silam, karena mereka cuma mewarisi abunya sejarah bukan apinya sejarah.
Apabila setiap pengikut ajaran Bung Karno hanyalah demikian adanya, hanya sekedar pewaris-pewaris abu sejarah belaka, alangkah sayangnya ajaran yang brilliant itu kemudian menjadi kenang-kenangan (sekalipun kenang-kenangan yang indah). Marhaenisme kemudian menjadi "out of date". Adalah menjadi tanggungjawab kita bersama untuk kembali menghidupkan jiwa ajaran tersebut, kembali menemukan arti kebaikan bagi rakyat. Dengan demikian Marhaenisme akan menampakkan jiwanya sebagai ajaran yang dinamis dan selalu up to date.
Untuk itulah maka mempelajari Marhaenisme tidaklah cukup hanya mempelajari pengertian-pengertiannya yang verbal, akan tetapi kita mencoba untuk menukik lebih dalam mencoba mengkaji makna hakikinya. Dengan demikian maka di samping kita mengerti apa Marhaenisme (secara verbal), kita coba menelaah mengapa dan juga untuk apa Marhaenisme yang meliputi mengapa lahir Marhaenisme dan mengapa kita pilih sekarang serta untuk apa sebenarnya kita memiliki Marhaenisme itu.
Pengertian dasar Marhaenisme
Marhaenisme - Marhaen - Marhaenis
Marhaenisme, adalah ajaran Bung Karno. Pengertianya adalah meliputi asa (teori politik) dan asas perjuangan.
Sebagai asa atau teori politik, ia adalah teori yang menghendaki susunan masyarakat dan negara yang didalam segala halnya menghendaki keselamatan kaum Marhaen*. Sebagai teori politik meliputi pengertian :
Sosio Nasionalisme,
Sosio Demokrasi,
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sosio Nasionalisme; adalah nasionalisme masyarakat, nasionalisme yang mencari selamatnya seluruh masyarakat dan yang bertindak menurut wet-wet nya masyarakat itu**.
Sosio Demokrasi; adalah merupakan konsekuensi daripada Sosio Nasionalisme. Sosio demokrasi adalah pula demokrasi yang berdiri dengan kedua kakinya didalam masyarakat***. Sosio Demokrasi tidak untuk kepentingan sekelompok kecil masyarakat akan tetapi adalah untuk kepentingan seluruh masyarakat.
Marhaen; adalah diambil dari nama seorang petani yang ditemui oleh Bung Karno di daerah Priangan. Marhaen digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan kelompok masyarakat/bangsa Indonesia yang menderita/sengsara. Ia sengsara/menderita bukan karena kemalasannya atau kebodohannya, akan tetapi ia sengsara/menderita karena disengsarakan oleh sesuatu sistem/stelsel kapitalisme-kolonialisme.
Marhaen meliputi unsur-unsur tani, buruh-tani, pedagang kecil yang melarat, dan semua kaum melarat lainnya yang dimelaratkan oleh sistem/stelsel kapitalisme-kolonialisme dan feodalisme.
Marhaenis, adalah penganut ajaran Marhaenisme yang berjuang menurut petunjuk ajaran-ajaran Marhaenisme, berjuang dengan bersama-sama/mengorganisir berjuta-juta kaum marhaen yang tersebar di seluruh tanah air.
2.1. Marhaenisme sebagai asas/teori politik sebenarnya merupakan kesimpulan, sekaligus sebagai teori perjuangan.
Artinya : pada saat itu Bung Karno menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia (Marhaen) menderita karena suatu sistem/stelsel. Sebetulnya ia penuh potensi dan bukan kaum yang malas.
Dengan demikian maka Marhaenisme mengandung teori perjuangan. Masalahnya mengapa sampai tiba kesimpulan yang demikian itu? Disinilah makna daripada Marhaenisme. Dengan visi Marhaenisme (yang berpihak kepada rakyat), kita dapat menganalisa masyarakat dan hasilnya adalah kita mengetahui kesengsaraan rakyat yang disebabkan oleh suatu sistem/stelsel. Dan dengan itu pula kita dapat menentukan cara berjuangnya.
2.2. Marhaenisme adalah kesimpulan dari penelaahan terhadap kondisi masyarakat Indonesia.
Kita ketahui bahwasanya masyarakat itu berkembang, seperti yang dijelaskan dalam metode berpikir marhenisme tentang "THESA-ANTITHESA-SYNTESA". Demikianlah masyarakat berkembang terus dari suatu thesa (keadaan) kepada thesa (keadaan) berikutnya, sampai pada thesa yang terakhir. Gerak ini kita kenal sebagai "DIALEKTIKA". Dengan dialektika, selanjutnya kita dapat melihat dua elemen dalam masyarakat yang selalu berhadapan, yakni :
element establishment, dan
elemen perubahan.
Elemen establishment adalah elemen yang menguasai thesa dan menjalankan suatu stelsel/sistem sebagai kelangsungan thesa (keadaan) tersebut. Elemen perubahan adalah elemen yang berada pada struktur antithesa. Apabila thesa pertama telah gugur karena munculnya antithesa, maka keadaan baru atau sinthesa akan dikuasai oleh elemen perubahan tersebut. Selanjutnya pada saat itu elemen perubahan menjadi elemen establishment. Demikianlah proses semacam ini berjalan terus sampai tercipta thesa terakhir yakni satu bentuk stelsel /sistem kemasyarakatan yang terakhir dan sempurna (dalam ajaran Marhaenisme, bentuk tersebut adalah Sosialisme Indoneisa).
Dari teori di atas dapat dianalisa keadaan masyarakat Indonesia. Ketika kolonialisme Belanda menguasai maka posisinya adalah sebagai establishment. Ia menguasai suatu thesa/keadaan (penjajahan) dan menjadi suatu stelsel/ sistem kapitalisme-kolonialisme.
Pada saat yang bersamaan , disitu telah terdapat pula elemen perubahan,- yakni masyarakat Indonesia yang tidak puas dengan keadaan. Semula kekuatan perubahan ini bersifat latent, setelah kekuatan ini berhasil diungkapkan - maka menjadi kekuatan riil untuk merubah keadaan. Cara pengungkapan kekuatan latent menjadi kekuatan riil itulah yang kemudian dirumuskan sebagai asa/teori perjuangan. Didalam buku MENCAPAI INDONESIA MERDEKA teori atau asas perjuangan disebutkan antara lain melipuit : self-help, self-relience, non kooperatip, machtvrming, massa aksi, revolusioner.
Setelah terjadi perubahan (kemerdekaan Indonesia) dan elemen perubahan berubah menjadi elemen establishment dan telah menguasai keadaan maka dibutuhkan teori-teori atau asas untuk menyusun sistem/stelsel kemasyarakatan. Dari hasil telaah yang mendalam ditemukan teori politik yang merupakan jawaban (antithesa) dari keadaan (thesa) yang ada.
Secara singkat digambarkan sebagai berikut:
Elemen Establismen Kondisi Bangsa Indonesia Elemen Perubahan
- -
-
Devide et impera
Dehumanisme
Penjajahan
Penghisapan
Kegotong-royonganTheistis
Dsb.
Terpecah belah
Tertindas
Tidak ada kedaulatan politik
Ketidakadilan
--
KetuhananYang Maha Esa
Kebangsaan /Persatuan Indonesia
Humanisme/Kemanusiaan
Demokrasi/ Kerakyatan
Keadilan sosial
Catatan: Dalam kenyatan masyarakat masing-masing kondisi tersebut tidak dapat selalu dipisahkan, akan tetapi saling berkaitan.
Dengan demikian maka nampaklah bahwa baik sebagai teori politik/asas maupun sebagai teori perjuangan, adalah merupakan jawaban terhadap keadaan.
Mengapa Memilih Marhaenisme
Persoalan berikutnya adalah mengapa sampai terjadi kesimpulan tersebut ? dengan kata lain; mengapa mesti lahir Marhaenisme, demikian pula mengapa pula kita memilihnya?
Pada proses dialektika seperti disebutkan di depan, maka rakyat berada pada elemen perubahan karena ia (rakyat) jelas merupakan bagian masyarakat yang menderita akibat satu sistem/stelsel yang dipertahankan oleh elemen establishment. Proses perubahan tersebut adalah sudah menjadi keharusan sejarah dan merupakan hukum alam, dan mesti terjadi. Karena setiap Marhaenis menghendaki perbaikan nasib rakyat, maka ia pasti berpihak kepada rakyat, berpihak kepada perubahan, karena perubahan yang terjadi adalah satu proses yang menuju kepada perbaikan nasib rakyat. Ketika Bung Karno dengan pisau analisanya mencoba meneelaah keadaan yang terjadi atas bangsanya dan dilihatnya elemen establishment (kolonialisme Belanda) dan elemen perubahan (Marhaen yang menderita) maka tercetuslah ajaran ajarannya yang menghendaki perubahan dengan jalan "merdeka sekarang juga". Dengan kemerdekaan nasional (sebagai jembatan emas) akan diperbaikilah nasib Marhaen yang menderita.
Maka boleh disimpulkan; karena adanya kolonialisme Belanda dan karena adanya Marhaen yang menderita dan atas kemampuan Bung Karno, lahirlah "MARHAENISME" sebagai teori politik dan teori perjuangan yang menghendaki perubahan-perubahan menuju perbaikan nasib Marhaen.
Persoalan berikutnya adalah merupakan hal yang penting bagi kita. Mengapa kita memilih Marhaenisme sebagai anutan? Menjawab pertanyaan tersebut maka terlebih dahulu kita menjawab permasalahan berikut, yakni :
Apakah proses perubahan/dialektika itu masih akan terjadi ?
Berada pada pihak manakah kita dalam pertentangan dua elemen yang ada (establishment dan perubahan) tersebut ?
Di dalam metode berpikir Marhaenisme telah jelas diterangkan tentang pola perubahan dalam masyarakat, secara sedarhana dapat digambarkan sebagai berikut:
Thesa
Antithesa
Synthesa/Thesa Baru
Antithesa
Syntesa/Thesa Baru
Feodalisme
perubahan
Kapitalisme
perubahan
Sosialisme
I
II
III
Melihat proses tersebut kita dihadapkan pada pilihan untuk menilai dimanakah fase perkembangan masyarakat yang ada. Apabila kesimpulan kita bahwa masyarakat sosialisme Indonesia (III) belum tercapai maka berarti proses perubahan masih akan terjadi. Dalam hal ini setiap Marhaenis berpihak pada elemen perubahan yang menuju kepada perbaikan nasib kaum Marhaen/rakyat.
Untuk Apa Marhaenisme ?
Setelah kita tahu apa dan mengapa marhaenisme, maka masalahnya adalah penarikan relevansinya pada saat ini. Dengan kata lain, untuk apakah marhaenisme ?
Jawabannya adalah sangat sederhana "UNTUK BERJUANG". Namun demikian sekalipun ungkapan diatas adalah sangat sederhana, akan tetapi menerangkan masalah ini sebenarnya memerlukan uraian yang sangat panjang.
Konotasi "BERJUANG" adalah berarti memperjuangkan nasib rakyat. Lalu kita mencoba mengkaji dan menelaah masalah kekinian untuk kemudian mengambil sikap. Pertama, kita lihat bagaimana, dan bagaimana kesimpulannya. Kalau kesimpulan kita adalah "PENDERITAAN", maka masalah berikutnya adalah: mengapa mereka menderita?, apa penyebabnya?, dan sebagainya.
Secara sederhana kita simpulkan secara global, ambilah TRISAKTI TAVIP sebagai tolok ukur. Rumusan Trisakti adalah:
Berdikari dalam bidang ekonomi.
Berdaulat dalam bidang politik.
Berkepribadian dalam kebudayaan.
Trisakti merupakan tolok ukur untuk menilai kemerdekaan. Dinamakan merdeka apabila ketiga hal tersebut telah dipenuhi, atau setidaknya dalam proses menuju kesana. Dikatakan bahwa kemerdekaan adalah sekedar "Jembatan Emas". Diseberang jembatan itu kita bangun Sosialisme Indonesia, kita bangun Indonesia yang "gemah ripah lohjinawi". Masalahnya sekarang bagaimanakah keadaan jembatan tersebut, untuk menilai hal ini kita punya tolak ukur di atas. Demikian pula mari kita lihat keadaan masyarakat Marhaenis dengan menggunakan pisau analisa Marhanisme, baru kemudian kita bisa menentukan sikap dengan terlebih dahulu memilih siapa kawan kita, dan siapa lawan kita.
Penutup
Kalau kita melihat pola perubahan masyarakat melalui proses dialektika, maka seolah-olah kita terpukau, apakah untuk mencapai Sosialisme Indonesia harus melalui fase kapitalisme? Bung Karno menjelaskan bahwa tanpa melalui fase kapitalisme kita dapat mencapai Sosialisme Indonesia. Teori ini kemudian disebut dengan "fase Sprong Teory". Dengan pentahapan revolusi, maka dengan meloncati fase kapitalisme kita dapat langsung menuju sosialisme. Ternyata Bung Karno tidak sendiri, artinya bahwa pendapat beliau (teori fase sprong) bukan satu-satunya pendapat atau teori yang berpendapat bahwa tanpa melalui kapitalisme dapat terbentuk sosialisme. Ernesto Che Guevara, seorang pejuang revolusioner dari Kuba (yang terbunuh di Bolivia) mempunyai pendapat yang sama walaupun dalam rumusannya yang berbeda. Dikatakannya sebagai berikut:
"It’s not necessary to weak for fullfillment condition a revolution, because the focus of insurection can create them".
Maksudnya, tanpa menunggu kondisi penuh untuk suatu revolusi (mencapai sosialisme), sosialisme akan tercapai. Karena revolusi untuk mencapai sosialisme akan terbentuk dengan sendirinya dengan dihidupkannya pergolakan-pergolakan, yang artinya masyarakat digembleng dalam suasana revolusioner secara terus menerus. Bung Karno membagi tahapan revolusi sebagai berikut:
fase satu, nasionalisme demokrat
fase dua, sosialisme demokrat
fase tiga, sosialisme indonesia
Pada fase satu, semua elemen progresif dipersatukan, semua potensi nasional disatukan (Nation And Character Building) untuk menyingkirkan musuh dan penghalang revolusi. Pada fase kedua, setelah semua penghalang revolusi berhasil disingkirkan, maka selanjutnya adalah membangun landasan dasar sosialisme. Landasan mental telah tercipta ( dengan Nation And Character Building) maka dibangunkanlah landasan fisiknya. Dengan berakhirnya fase kedua maka kita telah siap memasuki fase tiga, yakni Sosialisme Indonesia.

Materi Sarina (PPAB GmnI)




SARINAH

 kita mungkin sering mendengar nama ini. Nama yang sebenarnya tak beda dengan nama-nama lain yang ada di Indonesia maupun di daerah manapun, layaknya nama Dewi, Ayu, Rangga, Smith maupun Park, Sarinah juga memiliki kedudukan yang sama.
Namun apa yang membedakaknya?.. ya, nama tersebut selalu mampu membawa kita kepada tokoh revolusioner bangsa Indonesia, Soekarno. Hubungan yang sangat erat antara kedua manusia ini namapaknya bisa kita cermati dari buku Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat. Tak kurang dari 8 kali, bung karno memunculkan nama beliau dalam tulisannya itu, ini juga masih belum tehitung di dalam buku "SARINAH", Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia.
Sarinah merupakan wanita yang menjadi figur kunci dari seorang Bung Karno sebagaimana dikutip dalam buku Penyambung Lidah Rakyat, yakni :

"Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat gaji sepeserpun. Dialah yang mengajarku untuk mengenal cintakasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk disampingnya dan kemudian ia berpidato, "Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai pula rakjat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya."
Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku. Di masa mudaku aku tidur dengan dia. Maksudku bukan sebagai suamiisteri. Kami berdua tidur di tempat tidur yang kecil. Ketika aku sudah mulai besar, Sarinah  sudah tidak ada lagi".
Dalam kutipan tulisan yang diambi dari buku penyambung lidah rakyat diatas, kita dapat menangkap bahwa sosok sarinah merupakan sosok yang sangat penting bagi Soekarno. Ajaran yang disampaikan oleh Sarinah mengenai Cinta kasih yang merupakan nilai-nilai dari Humanisme selalu melekat kedalam pemikiran Soekarno. Hal ini dibuktikan Bung Karno, ketika beliau melakukan Perjalanan ke Bandung Selatan yang berakibat pertemuan dengan petani Marhaen yang menginspirasi lahirnya Marhaenisme yang merupakan  wujud kepedulian Bung Karno terhadap rakyat jelata sesuai dengan pesan mbok Sarinah, menjadi suatu bukti bahwa nilai-nilai yang selalu ditanamkan Sarinah ketika Soekarno kecil selalu menemaninya memasak, teraplikasikan oleh Soekarno Dewasa.
Pengaruh Sarinah dalam kehidupan Soekarno selalu menjadi latar belakang dari keberhasilan-keberhasilan beliau dalam memberikan nilai-nilai yang terbaik bagi Negara ini.
Nasionalisme Soekarno contohnya, merupakan Nasionalisme yang paling populer dan kemudian diresmikan pada masa awal kemerdekaan. Nasionalisme Soekarno ini mengambil platform Marhaenisme dan Sarinahisme sebagai common denominator untuk menyatukan seluruh elemen bangsa melawan kolonialisme.
Marhaen adalah seorang petani dan Sarinah adalah pembantu rumah tangga. Marhaenisme adalah salah satu konsepsi subatern yang berbeda dengan konsep proletar yang hanya ada dalam masyarakat kapitalisme lanjut di negara Barat. Kalau proletar adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai modal selain tenaganya sehingga dia terpaksa menjualnya pada pemilik modal, maka Marhaen, adalah seorang yang mempunyai modal, seperti tanah dan hewan peliharaan, tetapi mereka tetap menjadi miskin.
Marhaen adalah massa, demikian pula Sarinah. Tetapi, Marhaen telah berubah menjadi ‘Marhaen’, dan Sarinah berwujud menjadi ‘Sarinah’ dalam ideologi Nasionalis yang merepresentasikan Rakyat dan Bangsa (dengan R dan B besar). Bukan sebaliknya, bangsa atau rakyat didefinisikan oleh orang-orang seperti Marhaen yang petani atau Sarinah yang pembantu. Mahaen dengan kata lain di-Marhaen-kan.

GENDER DASAR
Terdapat kerancuan dalam pemaknaan istilah gender dan Seks yang tidak banyak diketahui orang. Beberapa kalangan menganggap seks maupun Gender merupakan term yang memiliki konotasi yang sama. Hal ini merupakan suatu kesalahan dimana dalam implementasinya pemaknaan kedua istilah ini cukup memiliki perbedaan yang penting untuk dibedakan.
Menurut Mansoer Fakih dalam bukunya "Analisis Gender", beliau membedakan pemaknaan istilah Gender dan Seks, dimana pengertian kedua istilah tesebut yakni :
Ø   Gender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara social maupun cultural. Anggapan bahwa permpuan itu lemah lembut, cantik , emosional atau keibuan. Sedangkan laki-laki lebih kepada kuat, rasional, perkasa. Sifat –sifat tersebut memiliki kemungkinan untuk dipertukarkan.
Ø   Sex adalah pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin menusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Alat-alat kelamin tersebut tidak bisa dipertukarkan antar beda jenis, hal inilah yang kemudian sering disebut sebagi ketentuan Tuhan atau Kodrat.
Dari pengertian diatas, maka sesungguhnya tidak ada masalah yng serius yang mampu menyebabkan ketidakadilan terhadap jenis kelamin tertentu. Namun dalam realitas yang ada berbeda.
Bagi jenis kelamin tertentu, konstruksi social yang terbentuk (bahkan sebelum dia dilahirkan), menyebabkan terjadinya perbedaan gender yang kemudian memunculkan ketidak adilan. Ketidakadilan tersebut berkisar seperti :
Ø  Terjadinya Marginalisasi terhadap jenis kelamin tertentu dikarenakan konstruksi Gender
Ø  Terjadinya Subordinasi terhadap Jenis kelamin tertentu dikarenakan konstruksi Gender
Ø  Lahirnya Stereotype terhadap Jenis kelamin tertentu dikarenakan konstruksi Gender
Ø  Stastistik Kekerasan terhadap Jenis kelamin tertentu lebih besar dari pada jenis kelamin yang lain dikarenakan konstruksi Gender
Ø  Beban kerja ganda terhadap Jenis kelamin tertentu dikarenakan konstruksi Gender
Ketidakadilan yang ada diatas juga termanifestasikan di tingkatan yang berbeda-beda diantaranya :
Ø  Tingkat Negara
Ø  Di tempat kerja
Ø  Di lingkungan social masyarakat adapt
Ø  Di lingkngan rumah tangga


Materi Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Pemuda (PPAB GmnI)



SEJARAH GERAKAN MAHASISWA DAN PEMUDA

Mahasiswa dalam esensinya tidak terlepas dari sejarah perubahan, karena mahasiswa adalah predikat yang amat "eksklusif". Disebut eksklusif karena mahasiswa adalah sosok yang istimewa dipandang dari sudut apapun dan dari manapun serta mempunya cerita yang istimewa dari masa ke masa, baik di Negara maju maupun di Negara berkembang begitu juga halnya dengan mahasiswa di Indonesia.
Bisa kita lihat peristiwa Revolusi Perancis yang diawali oleh terbelenggunya hak-hak mahasiswa Perancis dalam melakukan inovasi. Dan di Indonesia sendiri sudah tidak bisa diragukan kembali peran dari mahasiswa dalam menghadapi arah perjuangannya.
Di Indonesia sendiri mahasiswa mempunyai peranan penting dalam mengubah sejarah kebangsaan dan perjalanan demokrasi. Catat saja bagaimana peranan mahasiswa mampu merubah wajah perpolitikan saat ini yaitu dengan Gerakan reformasinya. Jauh beberapa tahun kebelakang kita mengenal angkatan gerakan kemahasiswaan dengan segala momentum sejarah kebangsaan di tanah air.

Gerakan Kemerdekaan (Tahun 1908-1945)
Kita mulai dari dimulainya gerakan untuk memerdekakan Indonesia pada 1908 yang sering kita kenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada waktu itu dr. Soetomo bersama dengan beberapa mahasiswa yang bersekolah di Belanda sadar akan nasib bangsa ini. Beliau membentuk Budi Oetomo sebagai Organisasi Mahasiswa Indonesia yang menempuh perguruan tinggi di Stovia, Belanda. Dan dari hal tersebut lahirlah tokoh-tokoh mahasiswa lain yang mempelopori Merdekanya Indonesia dari belenggu Kolonialisme. Soekarno, Tan Malaka, Shahrir, Hatta, dan beberapa tokoh pemuda yang notabene adalah rezim mahasiswa mampu menjadi sejarah dari Perubahan yang telah dicita-citakan oleh bangsa Ini semenjak bangsa ini terjajah.

Gerakan Mahasiswa Angkatan’66 (Tahun 1966)
Dikenal dengan istilah angkatan 66, gerakan ini awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, dimana sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang sekarang berada pada lingkar kekuasaan dan pernah pada lingkar kekuasaan, siapa yang tak kenal dengan Akbar Tanjung dan Cosmas Batubara. Apalagi Sebut saja Akbar Tanjung yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) periode tahun 1999-2004.
Dari rezim Orde Lama yang mulai membelenggu kebebasan Rakyat Indonesia, Mahasiswa mampu bergerak bersama rakyat untuk mencapai arah perubahan yang lebih masive dalam menghadapi penindasan. Dimotori oleh Soe Hok Gie, Akbar Tanjdung dan beberapa kawan-kawan mahasiswa yang lain mampu menggulingkan rezim Soekarno yang pada waktu Tua sudah menjadi Ambisius dengan menjadikannya sebagai Presiden Seumur Hidup lewat MPR-S nya dan melancarkan dekrit Presiden pada tahun 1959 yang menetapkan Beliau pada Pimpinan Tertinggi Negeri ini dan tidak dapat diganggu Gugat oleh semua Lembaga Negara yang mengevaluasi Kursi Kepresidenan pada waktu itu. Berbeda dengan soekarno muda yang mampu bergerak bersama rakyat dan revolusioner melawan penjajah dan memerdekakan Bangsa Indonesia.
Pada Tahun 1965 inilah mahasiswa menancapkan tajinya untuk kembali menjadi tonggak perubahan. Ketika bergabung bersama rakyat dan melancarkan Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyatnya, mahasiswa yang pada waktu itu dipelopori oleh Tokoh-Tokoh Mahasiswa 1960an yang pada waktu itu menduduki lembaga terpenting di Universitasnya seperti Soe Hok Gie yang eksis di Lembaga Persnya di UI, Akbar Tandjung yang aktif dalam Dema, Dewan Mahasiswa UI, dan Cosmas Batubara yang pada Waktu itu bergerak pada tataran GrassRoad atau gerakan Turun Jalan atau Gerakan yang mengkoordinir Basis Massa sehingga menjadi Massa yang solid untuk menjadikan Mahasiswa sebagai Sejarah Perubah.
Angkatan 66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten Negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Eksekutif pun beralih dan berpihak kepada rakayat, yaitu dengan dikeluarkannya SUPERSEMAR (surat perintah sebelas maret) dari Presiden Sukarno kepada penerima mandat Suharto. Peralihan ini menandai berakhirnya ORLA (orde lama) dan berpindah kepada ORBA (orde baru). Angkatan 66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyaknya aktivis 66 yang duduk dalam kabibet pemerintahan ORBA.

Gerakan Mahasiswa Ampera (Tahun 1972)
Gerakan ini dikenal dengan terjadinya peristiwa MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari). Tahun angkatan gerakan ini menolak produk Jepang dan sinisme terhadap warga keturunan. Pada puncaknya mereka menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka serta melakukan demonstrasi besar-besaran. Dan Jakarta masih menjadi barometer pergerakan mahasiswa nasional, catat saja tokoh mahasiswa yang mencuat pada gerakan mahasiswa ini seperti Hariman Siregar, Fajroel Rahman, sedangkan mahasiswa yang gugur dari peristiwa ini adalah Arif Rahman Hakim.

Gerakan Mahasiswa (Tahun 1980-an)
Gerakan pada era ini tidak popular, karena lebih terfokus pada perguruan tinggi besar saja. Puncaknya tahun 1985 ketika Mendagri (Menteri Dalam Negeri) Saat itu Rudini berkunjung ke ITB. Kedatangan Mendagri disambut dengan Demo Mahasiswa dan terjadi peristiwa pelemparan terhadap Mendagri. Buntutnya Pelaku pelemparan yaitu Jumhur Hidayat terkena sanksi DO (Droup Out) oleh pihak ITB (pada pemilu 2004 beliau menjabat sebagai Sekjen Partai Serikat Indonesia / PSI). Dan perlu diketahui pada Rezim ini lahirlah NKK-BKK yang dicanangkanm Pemerintah Orde Baru melalui Mantan Mendikbud RI 1978-1983 Daud Yusuf , Untuk meredam arah gerakan Mahasiswa yang sudah disadari akan menjadikan bangsa Ini mengalami Progres Untuk kedepannya.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1990 an
Isu yang diangkat pada Gerakan era ini sudah mengkerucut, yaitu penolakan diberlakukannya terhadap NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Kordinasi Kampus) yang membekukan Dewan Mahasiswa (DEMA/DM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Pemberlakuan NKK/BKK mengubah format organisasi kemahsiswaan dengan melarang Mahasiswa terjun ke dalam politik praktis, yaitu dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, dimana Organisasi Kemahasiswaan pada tingkat Perguruan Tinggi bernama SMPT (senat mahasiswa perguruan tinggi).
Organisasi kemahasiswaan seperti ini menjadikan aktivis mahasiswa dalam posisi mandul, karena pihak rektorat yang notabane nya perpanjangan pemerintah (penguasa) lebih leluasa dan dilegalkan untuk mencekal aktivis mahasiswa yang berbuat "over", bahkan tidak segan-segan untuk men-DO-kan. Mahasiswa hanya dituntut kuliah dan kuliah tok.
Di kampus intel-intel berkeliaran, pergerakan mahasiswa dimata-matai. Maka jangan heran jika misalnya hari ini menyusun strategi demo, besoknya aparat sudah siap siaga. Karena banyak intel berkedok mahasiswa.
Pemerintah Orde Baru pun menggaungkan opini adanya pergerakan sekelompok orang yang berkeliaran di masyarakat dan mahasiswa dengan sebutan OTB (organisasi tanpa bentuk). Masyarakat pun termakan dengan opini ini karena OTB ini identik dengan gerakan komunis.
Pemahaman ini didapatkan di Harian RADAR KARAWANG edisi : Awal Mei 2005,yaitu pada waktu itu saya mengkutib artikel dimana saat itu  ketika penulis artikel mengikuti ORPADNAS (orientasi kewaspadaan nasional) tingkat DKI Jakarta yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi di Jakarta pada tahun 1993. dan juga sebagai peserta pada kegiatan TARPADNAS (penataran kewaspadaan nasional) tingkat nasional yang diikuti oleh unsur pemuda dan mahasiswa seluruh Indonesia tahun 1994.
Pemberlakuan NKK/BKK maupun opini OTB ataupun cara-cara lain yang dihadapkan menurut versi penguasa ORBA, tidak membuat mahasiswa putus asa, karena disetiap event nasional dijadikan untuk menyampaikan penolakan dan pencabutan SK tentang pemberlakukan NKK/BKK, termasuk juga pada kegiatan TARPADNAS.
Sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah tidak berhenti pada diberlakukannya NKK/BKK, jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap refresif Pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (pergerakan mahasiswa islam Indonesia), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Repubik Indoenesia) dan GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Ini juga dialami penulis yang menemukan titik kejenuhan jika hanya bergulat dengan ORMAWA intra kampus, karena mahasiswa menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar, apalagi predikat mahasiswa adalah sebagai agent of intelegence, agent of change, agent of social control, yaitu mahasiswa sebagai seorang kaum terdidik, sebagai pembaharu dan sebagai kontrol sosial.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1998
Dan yang paling akhir kita dengar adalah, Reformasi 1998 yang melibatkan beberapa kalangan mahasiswa yang pada waktu itu sudah dibutakan selama kurang lebih 30 tahun Oleh Rezim Orde Baru, rezim Soeharto lewat NKK-BKK nya. Gerakan mahasiswa era sembilan puluh delapan mencuat dengan tumbangnya Orde Baru dengan ditandai lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, tepatnya pada tanggal 12 mei 1998.
Gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan mencapai klimaksnya pada tahun 1998, di diawali dengan terjadi krisis moneter di pertengahan tahun 1997. harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Mahasiswa pun mulai gerah dengan penguasa ORBA, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda REFORMASI nya mendapat simpati dan dukungan yang luar biasa dari rakyat. Mahasiswa menjadi tumpuan rakyat dalam mengubah kondisi yang ada, kondisi dimana rakyat sudah bosan dengan pemerintahan yang terlalu lama 32 tahun ! politisi diluar kekuasaan pun menjadi tumpul karena terlalu kuatnya lingkar kekuasaan, dan dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat, dan Golkar).
Simbol Rumah Rakyat yaitu Gedung DPR/MPR menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia, seluruh komponen mahasiswa dengan berbagai atribut almamater dan kelompok semuanya tumpah ruah di Gedung Dewan ini, tercatat FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta), FORBES (Forum Bersama), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan FORKOT (Forum Kota). Sungguh aneh dan luar biasa, elemen mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan : Turunkan Soeharto.
Dua elemen mahasiswa yang mencuat adalah FKSMJ dan FORKOT. Penulis mengenal betul karakter dua elemen mahasiswa ini. FKSMJ yang merupakan forumnya senat mahasiswa se Jakarta, lebih intens melakukan koordinasi dan terkesan hati-hati dalam menyikapi persolan yang muncul, dan lebih apik dalam beraksi karena menghindari gerakan mata-mata intel. Sedangkan FORKOT yang terdiri dari kelompok aktivis mahasiswa Pers Kampus lebih "radikal" dalam beraksi dan berani menentang arus, sehingga tak jarang harus berhadapan langsung dengan aparat, dan bentrok fisik pun tak terelakan.
Perjuangan mahasiswa menuntut lengsernya sang Presiden memang tercapai, tapi perjuangan ini sangat mahal harganya karena harus dibayar dengan 4 nyawa mahasiswa Tri Sakti, mereka gugur sebagai Pahlawan Reformasi, serta harus dibayar dengan tragedi Semanggi 1 dan 2. Memang lengser nya Soeharto seolah menjadi tujuan utama pada gerakan mahasiswa sehingga ketika pemerintahan berganti, isu utama kembali kepada kedaerahan masing-masing. FORKOT dan FKMSMJ pun kembali bersebrangan tujuan. REFORMASI terus bergulir, perjuangan mahasiswa tidak akan pernah berhenti sampai disini. Perjuangan dari masa ke masa akan tumbuh jika Penguasa tidak berpihak kepada rakyat.

Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi
Dalam posisi tawar mahasiswa yang lemah dewasa ini, belum saatnya menentukan
partner politik atau memutuskan pilihan-pilihan grand design politik tertentu, Gerakan Mahasiswa sekarang belum lagi menjadi agent of social change, sebaliknya menjadi gerakan peripherial, pinggiran. Agenda yang diperlukan adalah penyatuan kelompok-kelompok pinggiran mahasiswa dalam suatu konsolidasi secara nasional.Hal ini dibutuhkan untuk pengembalian posisi tawar yang menyurut. Karenanya, dalam posisi tawar yang lemah, agenda Gerakan Mahasiswa mesti berpihak memilih misi transformatif dan misi korektif. Misi transformatif menekankan pada gerakan penyadaran sosial politik dan penularan gagasan-gagasan demokrasi dan hak-hak azasi manusia. Sedangkan misi korektif menitikberatkan pada koreksi berbagai kebijakan atau sikap dan tindakan yang tidak menguntungkan rakyat banyak.
Diangkatnya isu-isu lokal populis dengan harapan dapat menjadi isu nasional
nampaknya masih bisa diandalkan. Pilihan isu-isu mikro memang sesuai dengan kondisi Gerakan Mahasiswa yang lemah. Dalam tahap ini diharapkan terjadi konsolidasi secara bertahap untuk mengembalikan nafas Gerakan Mahasiswa yang telah surut akibat depolitisasi kampus. Untuk merajut jaringan secara nasional itu paling tidak dibutuhkan beberapa prinsip. Pertama, perlunya semangat dialog tanpa apriori antarkelompok mahasiswa. Melalui dialog tanpa apriori dapat diketahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pihak serta menghindari perasaan curiga atau rasa permusuhan akibat berbedanya pendekatan gerakan. Kedua, kedewasaan berpolitik antaraktivis yang berbeda ideologi dan pendekatan gerakan. Ketiga, konsolidasi berjalan bertahap dan berkesinambungan melalui isu-isu tertentu dengan target "jangka panjang," sehingga terhindar situasi gerakan yang prematur.